Stadion Bima Cirebon Bukan Melahirkan Atlet Melainkan Para Pelaku UMKM

Radio Maritim Online, Kota Cirebon – Stadion Bima tidak seperti layaknya sebuah stadion besar lainnya, yang dipenuhi oleh kegiatan olahraga. Seharusnya Stadion Bima melahirkan atlit-atlit berbakat dan berprestasi, namun faktanya di stadion ini lebih banyak melahirkan pelaku – pelaku wirausaha UMKM. Sangat memprihatinkan, sebagaimana kita ketahui bahwa stadion ini banyak dipenuhi oleh pedagang – pedagang tetap mempunyai kios, warung dan serta gerobak dorong pedagang kaki lima.

Menurut Ir. Sutrija melihat kondisi tersebut, dirinya merasa sangat miris, dimana stadion yang pernah berjaya pada masanya itu, saat ini tidak berdaya walaupun didukung kemajuan jaman teknologi informasi dan teknologi industri 4.0. Disini kata Ir. Sutrija, banyak venue  tidak terurus dengan baik sebagai tempat berlatih yang memadai, sistim pelatihan dan minimnya kompetisi yang menjadi penyebab utama. Padahal kata Ir. Sutrija tempat ini masih termasuk wilayah administrasi kota Cirebon yang banyak dikelilingi oleh permukiman padat penduduk dan sekolah-sekolah serta perguruan tinggi. Artinya lokasi ini sangat strategis dekat dari jangkauan lingkungan masyarakat bisa di berdayakan kemajuan Olahraga dengan mencari bibit Atlit dari berbagai cabang olahraga. Ungkapnya.

Lebih dari itu Ir. Sutrija menjelaskan, melihat perkembangan ahir-ahir ini jika dibandingkan dengan masa lalu, masih terngiang ditelinga dan ingatan kita bahwa dari wilayah Cirebon banyak sekali melahirkan atlit nasional bahkan internasional seperti Cuncun dari cabang Badminton, Chaterine Surya cabang Renang, klub bola PSIT dan atlit lainnya yang cukup terkenal dan menjadi kebanggaan serta mengharumkan nama Kota Cirebon.

Ini Fenomena yang terjadi jelas Ir. Sutrija, setelah Stadion Gunungsari dirubah oleh penguasa Cirebon menjadi sebuah pusat perbelanjaan, hotel dan mal besar. “Stadion ini ditukar guling dipindah entah kemana rimbanya, setelah itu mulailah berjalan perlahan tapi pasti prestasi atlit Cirebon meredup prestasinya.” jelas Ir. Sutrija. Jumat, (13/09/2019).

Lanjut Ir. Sutrija, didepaknya asrama brimob yang sangat terkenal “Turnamen Brimob Cupnya” yang banyak melahirkan atlit volley ball tingkat nasional. Namun apa daya, saat ini asrama bimob sudah menjadi mall dengan nama Cirebon Super Blok. Maka komplit sudah redupnya reputasi serta penderitaan atlit Cirebon.

Maka timbul pertanyaan Ir. Sutrija Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah sarana dan prasarana yg kurang memadai atau tidak ada lagi orang Cirebon yang mau menjadi profesi atlit, ataukah mungkin juga pemerintah setempat yang tidak perduli terhadap perkembangan dunia olahraga. Padahal menurutnya, keberhasilan pembangunan industri olahraga sangat penting dikarenakan banyak mempunyai dampak besar terhadap perekonomian dari sektor ini, bahkan kemajuan olahraga dapat menjadi sebuah indikator kemajuan suatu daerah. Tandasnya.

Selain itu diapun menambahkan, keberadaan Stadion Bima yang gagah dengan patung Bima sambil memegang ular besar. Mampukah kembali meningkatkan prestasi olahraganya, seperti pemda lamongan sampai mempunyai klub bola ditingkat divisi utama, padahal daerah ini hanya ditopang oleh pedagang-pedagang soto dan pecelnya. Apakah pedagang UMKM di Stadion Bima dengan kebanggaan kulinernya seperti, empal gentong, batik, rotan dan nasi jamblang dapat mengangkat prestasi olahraga Cirebon? Jawabnya kalah sama lamongan, bahkan jika dibandingkan pemda malang yg hanya mengandalkan perekonomian dari banyaknya perguruan tinggi di daerah tersebut, sudah mempunya dua klub bola ditingkat utama negeri ini.
Bagaimana dengan Cirebon, mari kita bahu membahu untuk membangun kembali prestasi atlit Cirebon agar bangkit seperti berkembang pesatnya UMKM di sekitar Stadion Bima. Harapnya, (Red/salam esteje).

Tautan permanen menuju artikel ini: http://radiomaritim.com/stadion-bima-cirebon-bukan-melahirkan-atlet-melainkan-para-pelaku-umkm/